GHUNNAH
Ghunnah secara bahasa memiliki arti Dengung / Mendengung. Sedangkan
ghunnah secara istilah memiliki
arti Suara yang nyaring / jelas yang keluar dari lobang hidung, dengan tidak
menggunakan lidah ketika mengucapkannya.
Adapun
nadzom yang memiliki penjelasan seperti
berikut , “Ulama Qurra’ mewajibkan mendengung selama di (dalam) membaca mim dan nun yang ditasydid keduanya”. Dalam hal ini , huruf yang ditasyidi
itu berbentuk dari 2 huruf.
Mim dan nun yang bertasydid
ini disebut huruf ghunnah, seperti
apa yang disebutkan Imam Jamzhuri dalam kitabnya Tuhfath:
Berkata
(nadzom) pemilik kitab Tuhfath:
“Ghunnahkanlah
(dengungkanlah) mim, lalu nun yang ditasydid keduanya, dan namakanlah keduanya
(mim dan nun yang ditasydid) huruf ghunnah dengan jelas”.
Disamping
keduanya merupakan huruf ghunnah ,
keduanya juga mempunyai sifat ghunnah
dengan sempurna dan juga tergolong huruf ghunnah
yang derajat ghunnahnya paling tinggi
dari sederet derajat ghunnah, seperti
yang disebutkan dalam kitab Basit fi Ilmit Tajwid (karangan Syaikh Badar Hanafi
Mahmud) dan hal senada juga terdapat dalam nadzom kitab Matan Salsabil
Asy-Syafi fii Ilmit Tajwid (karangan Asy-Syaikh Sulaiman bin Murad).
Adapun
nadzom yang memiliki penjelasan sebagai berikut:
“Ghunnah adalah suara
merdu yang disusun dari nun dan mim atas beberapa tingkatan (derajat)”.
Dalam
keterangan diatas mim dan nun yang ditasydid maka wajib
menjelaskan ghunnah (dengungan) nya,
seperti yang diisyaratkan Nadzim:
“Ulama qurro’
mewajibkan mendengung selamanya”.
Dan
ghunnah yang terdapat pada nun yang
ditasydid lebih jelas dari ghunnahnya
mim. Contoh bacaan :
INNA , TSUMMA , INNAMA , FALAMMA
Penulis
Buku : Shofiyullah al-Kahfi
Penerbit
: Lirboyo Press
Cetakan
: Pertama , Agustus 2015
(
Tria Istikmalul Muafah , PGMI 1B )
Terima kasih
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus